
Keleman adalah salah satu tradisi yang terus dilakukan untuk mempertahankan kearifan lokal. Sudah sepatutnya sebagai generasi penerus kita tetap melestarikannya agar tidak punah termakan zaman yang makin modern. Dan semoga tetap lestari sampai kepada generasi penerus kita nanti.
Keleman merupakan ungkapan rasa syukur dari para petani. Dengan memanjatkan Doa dan Harapan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar tanaman padi mereka bisa dijauhkan dari gangguan hama dan penyakit serta agar nantinya bisa menghasilkan produksi maksimal yang penuh dengan keberkahan.
Tradisi keleman sudah menjadi agenda rutin di Poktan Ngusikan Desa Ngusikan Kecamatan Ngusikan. Keleman dilakukan secara massal / bersama-sama seluruh anggota Poktan Ngusikan dibawah komando dari Munadi Ketua Kelompok Tani. Di Poktan Ngusikan keleman dilakukan pada saat tanaman padi mulai meteng (bunting). Oleh karena itu ada juga istilah di sekitar Ngusikan bahwa keleman adalah “tingkepan” untuk tanaman padi. Oleh karena itu keleman di Ngusikan ini dilakukan pada saat padi mulai masuk fase bunting.
Fase bunting ini termasuk pada fase generatif / produktif. Perkembangan tanaman pada tahap ini diawali dengan inisiasi bunga. Bakal malai terlihat berupa kerucut berbulu putih panjang 1,0-1,5 mm. Pertama kali muncul pada ruas buku utama kemudian pada anakan dengan pola tidak teratur. Ini akan berkembang hingga bentuk malai terlihat jelas sehingga bulir terlihat dan dapat dibedakan. Malai muda meningkat dalam ukuran dan berkembang ke atas di dalam pelepah daun bendera menyebabkan pelepah daun menggembung. Penggembungan daun bendera ini disebut bunting. Kemudian bunting pada tahap kedua terlihat pertama kali pada ruas batang utama. Pada tahap bunting, ujung daun layu (menjadi tua dan mati) dan anakan non-produktif terlihat pada bagian dasar tanaman.
Tahap selanjutnya dari fase ini adalah tahap keluar malai (heading). Heading ditandai dengan kemunculan ujung malai d ari pelepah daun bendera. Malai terus berkembang sampai keluar seutuhnya dari pelepah daun. Akhir fase ini adalah tahap pembungaan yang dimulai ketika serbuk sari menonjol keluar dari bulir dan terjadi proses pembuahan. Lalu tahap selanjutnya adalah pembungaan. Pada pembungaan, kelopak bunga terbuka dan antera menyembul keluar dari kelopak bunga karena pemanjangan stamen dan serbuk sari tumpah. Kelopak bunga kemudian menutup. Serbuk sari atau tepung sari jatuh ke putik, sehingga terjadi pembuahan. Struktur pispil berbulu dimana tube tepung sari dari serbuk sari yang muncul akan mengembang ke ovary.
Proses pembungaan berlanjut sampai hampir semua spikelet pada malai mekar. Pembungaan terjadi sehari setelah heading. Pada umumnya floret (kelopak bunga) membuka pada pagi hari. Semua spikelet pada malai membuka dalam 7 hari. Pada pembungaan, 3-5 helai daun masih aktif. Fase reproduktif yang diawali dari inisiasi bunga sampai pembungaan berlangsung sekitar 35 hari. Pemberian zat pengatur tumbuh atau penambahan hormon tanaman berupa gibberlin (GA3) dan pemeliharaan tanaman dari serangan penyakit sangat diperlukan pada fase ini. Untuk ketersediaan air pada fase ini harus dijaga karena tanaman sangat memerlukannya. Terutama pada tahap terakhir diharapkan bisa tergengan antara 5-7 cm.
Kegiatan keleman di Poktan Ngusikan untuk menyambut masa bunting untuk tanaman padi ini diikuti oleh seluruh anggota Poktan. Setiap anggota membawa tumpeng dari rumah untuk dibawa ke sawah. Mereka berkumpul di lokasi sawah yang telah disepakati sebagai titik kumpul untuk melaksanakan kegiatan keleman. Tidak hanya membawa tumpeng saja, dalam kegiatan ini mereka juga melakukan kegiatan membaca Al-Quran dan doa bersama. Kegiatan Doa bersama dipimpin oleh Amin salah satu tokoh agama di Desa Ngusikan. Doa bersama dilakukan sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT dan meminta agar tanaman padi tetap dalam kondisi bagus hingga panen tiba. Juga besar harapan dalam panjatan doa mereka agar hasil panen nanti bisa bagus dengan harga yang bagus pula.
Kegiatan ini dihadiri oleh pengurus dan hampir 40 petani anggota kelompok tani, Camat Ngusikan, Tokoh Agama, Staf Desa, 4 orang tim penyuluh pertanian, perwakilan Babinsa dan perwakilan Babinkamtibmas. Banyak pihak sangat mendukung dan bangga kepada Poktan Ngusikan yang masih mau melestarikan budaya jawa. Salah satunya adalah Wahyu Purnomo, SH, M.Si. Camat Ngusikan.
“Saya sangat senang dan bangga sekali dengan warga Ngusikan karena masih mau dan bisa melestarikan budaya nenek moyang kita. Apalagi kegiatan ini dikemas dalam wujud doa bersama untuk memohon kepada Allah SWT. Semoga di tahun-tahun yang akan datang kita masih bisa dipertemukan lagi dalam kegiatan dan tempat yang sama seperti ini” ujar Wahyu Purnomo.
Kemudian kegiatan ditutup dengan doa penutup yang dipimpin oleh Suntoyo Kepala Dusun Ngusikan. Dan selanjutnya semua peserta yang hadir dipersilahkan untuk purak’an (makan) tumpeng bersama. Tak ketinggalan kami juga dipersilahkan untuk mberkat atau membawa nasi tumpeng untuk dibungkus dan dibawa pulang. Dan sudah saatnya untuk kami kembali ke BPP atau melanjutkan aktivitas lain di wilayah binaan masing-masing penyuluh. Besar harapan kami agar kegiatan usahatani Poktan Ngusikan bisa mendapatkan produksi dengan kualitas yang bagus dan harga yang bagus pula. Aamiin...
Ditulis Oleh: Deny Murtanti
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Balai Pelatihan Pertanian (BPP) Ngusikan Kabupaten Jombang