Mekanisasi dalam kegiatan pertanian berupa pemanfaatan alat dan mesin pertanian saat ini merupakan suatu pilihan dalam mendukung kegiatan usaha tani. Hal ini disebabkan karena adanya beberapa kendala yang sedang dihadapi oleh petani pada saat ini. Salah satunya adalah keterbatasan tenaga kerja. Mencari tenaga kerja di mulai dari kegiatan pengolahan lahan, tanam, perawatan tanaman hingga tenaga kerja untuk panen saat ini semakin sulit.  

Oleh karena itu dibutuhkan solusi alternatif untuk memecahkan persoalan tersebut, yakni dengan optimalisasi penggunaan alat dan mesin pertanian. Dengan memanfaatkan alsintan diharapkan kegiatan usaha tani bisa lebih efektif dan efisien. Pada kegiatan pengolahan tanah bisa menggunakan traktor roda dua, roda empat ataupun kultivator. Pada kegiatan tanam bisa menggunakan mesin tanam (rice transplanter). Pada kegiatan penyiangan gulma bisa menggunakan power weeder (alat penyiang). Begitupun pada saat panen bisa menggunakan mesin pemanen (combine harvester).

Panen adalah rangkaian kegiatan pengambilan hasil budidaya berdasarkan umur, waktu dan cara sesuai dengan sifat dan/atau karakter produk. Istilah panen ini paling umum digunakan dalam kegiatan berbudidaya tanaman dan sebagai penanda berakhirnya kegiatan di sebuah lahan.

Untuk mendukung efisiensi dalam kegiatan panen padi, maka penggunaan alsintan combine harvester bisa menjadi pilihan solusi. Penggunaan combine harvester akan mempercepat waktu panen dan meningkatkan kualitas hasil panen. Berdasarkan pengamatan petugas pertanian maupun petani menunjukkan bahwa kondisi gabah hasil panen dengan menggunakan combine harvester ternyata lebih bersih sehingga harga jualnya juga bisa lebih bagus. Dan nyatanya memang harga jual gabah antara pemanenan biasa (konvensional tenaga manusia) dengan combine harvester bisa selisih mencapai 400-600 rupiah per kilo gramnya. Saat ini harga jual gabah kering panen di Poktan Nongko Desa Sumbernongko Kecamatan Ngusikan berkisar antara Rp.3600 – Rp.3800 per kilogram. Sedangkan harga jual gabah kering panen yang menggunakan combine harvester Rp.4200 per kilogram.

Biaya panen dengan menggunakan combine harvester di Poktan Nongko adalah Rp.400.000,- per boto 100 atau Rp.2.800.000,- per hektarnya. Sedangkan jika kegiatan panen dilakukan dengan tenaga manusia maka perhitungannya adalah dengan sistem bawon yaitu 1/5 dari hasil panen. Jika per boto 100 hasil panen mencapai 1 ton (hasil panen pada umumnya di Poktan Nongko), maka biaya panen yang harus dikeluarkan dalam bentuk bawonan yaitu sebesar 200 kg. Jika diuangkan maka sebesar Rp.720.000,- (200 kg x Rp.3.600,-). Jika dalam 1 hektar besarnya bawon yaitu 1400 kg atau Rp.5.040.000,-.

Dari perhitungan ini saja sudah bisa dilihat bahwa biaya pemanenan secara konvensional dibandingkan dengan penggunaan mesin panen perbedaannya sangat jauh. Pemanenan dengan mesin pemanen jauh lebih murah dibandingkan pemanenan konvensional.

Oleh karena itu Joko salah satu petani yang melakukan usaha tani padi di Poktan Nongko dari tahun ke tahun mulai rutin menggunakan jasa penyewaan alsintan. Jasa alsintan yang digunakan oleh Joko dalam usaha tani Padi yaitu Mesin penanam dan mesin pemanen. Selain sebagai solusi pilihan semakin berkurangnya tenaga kerja, alasan lainnya adalah untuk menekan biaya garap.

“Sekarang untuk mencari tenaga tanam dan panen semakin sulit. Adapun tenaga tanam dan panen yang ada itu harus mendatangkan dari luar desa bahkan dari luar kecamatan. Karena tenaga tanam dan panen yang ada di Desa kami ini sudah semakin sedikit dan rebutan. Sehingga sering kali kami terlambat dalam penanaman padi, karena harus menunggu giliran antrian”. Ujar Joko saat kami temui di lahan sawah miliknya di Poktan Nongko.

Hal ini senada dengan penjelasan yang disampikan oleh Suliyani sebagai petugas penyuluh pendamping di Desa Sumbernongko. Suliyani menyampaikan bahwa saat ini tenaga kerja semakin sedikit. Itupun tenaga kerja yang ada saat ini adalah tenaga kerja dengan usia yang rata-rata sudah tua. Jadi tantangan pertanian ke depan jika tenaga kerja yang sudah tua ini habis, maka solusi yang paling memungkinkan untuk dilakukan adalah dengan penggunaan alat mesin pertanian.

Besar harapan kami semoga ke depan semakin banyak dukungan kemudahan dalam mendukung kegiatan pertanian. Tanaman bisa dibudidayakan dengan baik, memberikan hasil yang baik dan dengan kebijakan harga yang baik pula. Sehingga kesejahteraan petani bisa dicapai.

 

Ditulis oleh: Deny Murtanti, S.P.

PPL BPP Kec.Ngusikan