Kementerian pertanian (Kementan) mendorong masyarakat untuk memanfaatkan lahan pekarangan yang menghasilkan pangan tambahan untuk keluarga. Dari lahan pekarangan bisa dihasilkan sayur sehat, tanaman obat dan tanaman lainnya yang bisa digunakan untuk konsumsi keluarga.

Terkait pemanfaatan lahana pekarangan, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi selalu memberikan motivasi kepada para penyuluh untuk mendampingi masyarakat dalam memanfaatkan lahan pekarangan. Ia mengatakan banyak hal yang bisa dilakukan dalam pemanfaatan lahan pekarangan, salah satunya dengan melakukan budidaya sayuran.

“Manfaatkan semua limbah rumah tangga untuk diolah menjadi pupuk organik, kemudian aplikasikan pada tanaman yang ada di pekarangan. Jika tidak memungkinkan melakukan budidaya dengan menanam secara langsung di media tanah, bisa juga dengan budidaya secara hidroponik”. Ujar Dedi.

Pemanfaatan lahan pekarangan rumah dapat menjadi bagian penting dalam mendukung ketahanan pangan. Hal ini dikarenakan kebutuhan pangan keluarga secara kuantitas dan kualitas  bisa terpenuhi dengan baik. Stok pangan yang bergizi, aman dan beragam secara teratur bisa dipenuhi dari kebun / pekarangan rumah.

Selama pandemi covid-19 ini banyak orang yang berdiam diri di rumah. Efek dari berdiam diri di rumah ini akhirnya menciptakan aktifitas positif yang dilakukan di sekitar rumah. Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh para kaum ibu di rumah adalah dengan melakukan kegiatan pemanfaatan pekarangan. Selain menanam secara konvensional dengan media tanah, sekarang ini yang lagi digandrungi oleh masyarakat khususnya kaum hawa adalah bertanam dengan menggunakan media air atau yang disebut hidroponik.

Karena adanya fenomena berdiam diri di rumah selama pandemi yang dikarenakan adanya pembatasan kegiatan sosial oleh pemerintah, maka Tim Penyuluh Pertanian BPP Ngusikan melaksanakan kegiatan penyuluhan yang salah satunya adalah materi pelatihan hidroponik sederhana. Tim Penyuluh BPP Ngusikan terdiri dari 4 Orang, yakni Supriyanto sebagai Koordinator, dan 3 orang Penyuluh lapangan yaitu Suyanto, Deny dan Suliyani.

Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Mojodanu Kecamatan Ngusikan. Kegiatan yang diprakarsai oleh pemerintah Desa Mojodanu dan berkolaborasi dengan Tim Penyuluh dihadiri oleh 35 Orang. Yang terdiri dari Kades beserta jajarannya, Ibu Ketua penggerak PKK Desa beserta anggota serta peserta ibu rumah tangga dari segala golongan usia.

Hidroponik adalah budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman. Beberapa Kelebihan hidroponik antara lain : 1). Bekerja secara bersih, semua dalam keadaan steril. 2). Nutrisi yang diberikan ketanaman  effisien dan lengkap. 3). Tanaman bebas gulma (ecuali lumut / alga) 4). Tanaman lebih jarang terkena hama dan penyakit. 5). Pertumbuhan tanaman lebih terkontrol. 6). Lahan yang dibutuhkan sempit.  

Tanaman yang bisa dibudidayakan dengan system hidroponik adalah semua tanaman, namun biasanya yang umum adalah tanaman sayuran dan buah, tanaman herbal dan juga tanaman hias. Untuk tanaman sayuran yang biasanya ditanam dengan sistem hidroponik diantaranya adalah sawi, pakchoy, selada, seledri, tomat, cabai, dan lain-lain.

Hidroponik yang mudah untuk pemula adalah dengan menggunakan sistem wick atau sumbu. Peralatan Hidroponik sistem sumbu yang dibutuhkan adalah : benih, netpott, sumbu dari kain flanel, styrofoam atau bak penampung, nutrisi dan alat ukur (TDS dan pH meter).

Praktek Semai Hidroponik :

Potong rockwool/busa ukuran 2,5 cm x 2,5 cm, semprot dengan sprayer sampai basah/lembab. Kemudian susun di tray kemudian dilubangi bagian tengahnya sedalam +/- 1 cm. Masukkan biji sayuran ke dalam lubang , kemudian disemprot dengan air kembali sampai basah. Tutup dengan plastik hitam dan taruh di tempat gelap selama semalam. Hal ini bertujuan untuk mempercepat pecah kecambah. Esok harinya letakkan tray di tempat yang terlindung dari sinar matahari. Jaga kelembapan benih setiap hari , jika terlalu kering dapat disemprot dengan air . Dalam 2 x 24 jam benih sudah tumbuh. Jika sudah tumbuh letakkan tanaman ditempat yang kena matahari secara bertahap untuk mencegah etiolasi.

Penanaman :

Siapkan terlebih dahulu larutan pupuk/nutrisi . 5 ml Larutan A + 5 ml larutan B . Campurkan kedalam 1 liter air . Banyaknya larutan yang dibuat disesuaikan dengan besar wadah yang digunakan. Lalu masukkan benih beserta rockwoolnya ke netpot kecilnya. Dan letakkan netpott yang sudah berisi bibit tanaman ke lubang impra board (lembaran penutup bak penampung).

Perawatan Tanaman :

Setelah ditanam, tanam disiram dengan larutan secara manual setiap hari sampai akar tumbuh sampai ke permukaan air . Setelah akar tumbuh sampai permukaan air maka penyiraman dihentikan. Letakkan sayuran tersebut ditempat yang terkena matahari langsung , jika memungkinkan sayuran tersebut terlindung dari hujan . Lakukan pengecekan tinggi permukaan air larutan yang ada didalam wadah (bak penampung), jika kurang (air menyusut) dapat ditambahkan larutan yang baru.

Tahap Panen :

Lebih kurang sekitar 30 hari sayuran seperti sawi, pakchoy, selada yang ditanam sudah dapat dipanen. Cabut tanaman dari pot kecilnya, bersihkan pot dari sisa sisa akar sayur dan netpott tersebut dapat digunakan untuk penanaman berikutnya. Sedangkan untuk kangkung bisa dipanen umur 20 hari dengan cara dipotong di bagian pangkal batang diatas ruas daun. Dan tanaman kangkung dirawat agar bisa tumbuh lagi sehingga bisa panen berkali-kali untuk sekali tanam.  

Antusiasme masyarakat di Desa Mojodanu Kecamatan Ngusikan cukup bagus. Dan setelah diadakan kegiatan penyuluhan mengenai materi hidroponik, beberapa wanita kader PKK serta beberapa ibu-ibu muda yang segera menerapkan. Mereka menanam sayuran sawi, kangkung dan bayam dengan media hidroponik sistem wick yang ditempatkan di teras rumah.

Sijat Kepala Desa Mojodanu beserta jajaran yang telah memprakarsai kegiatan pelatihan hidroponik ini, menyatakan sangat senang karena peserta merasa antusias selama mengikuti kegiatan penyuluhan bersama tim Penyuluh BPP Ngusikan. Kepala Desa Mojodanu juga merencanakan ingin melaksanakan kegiatan pelatihan singkat lanjutan mengenai materi hidroponik sederhana ini.

“Saya sangat senang dengan diadakannya kegiatan penyuluhan pelatihan mengenai menanam sayuran dengan media hidroponik ini. Dan dari melihat respon yang sangat luar biasa dari peserta, ternyata materi mengenai hidroponik ini menjadi sesuatu yang baru dan segar bagi kami disini. Dan tentu ini bisa menjadi salah satu pilihan kegiatan positif bagi ibu rumah tangga di rumahnya masing-masing. Nanti di waktu yang akan datang kami ingin mengundang bapak-ibu penyuluh ini untuk memberikan materi lanjutan mengenai hidroponik. Dan sekaligus sebagai bentuk pendampingan dari petugas kepada kami tentunya”. Ujar Sijat usai kegiatan.

Supriyanto Koordinator Penyuluh Wilayah Kecamatan Ngusikan menyatakan sangat mendukung kegiatan pembinaan dari anggotanya kepada masyarakat. Terutama saat ini dimasa pandemi memang banyak aturan pembatasan sosial sehingga masyarakat lebih banyak tinggal di rumah. Sehingga banyak orang yang memang cenderung mencari kegiatan alternatif untuk mengisi waktu luangnya. Salah satunya adalah dengan berkebun di sekitar rumah.

“Berkebun tentunya sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat yang tinggal di pedesaan. Namun tidak ada salahnya jika masyarakat mulai dikenalkan dan mencoba dengan cara yang lebih modern. Budidaya dengan media hidroponik bisa menjadi salah satu pilihan kegiatan berkebun yang mudah dan juga bersih. Selain itu dalam berbudidaya secara hidroponik juga kita bisa mengurangi limbah botol plastik dengan cara dimanfaatkan sebagai wadah / pot penampung media air”. Ujar Supriyanto saat penutupan kegiatan tersebut.

Ditulis Oleh: Deny Murtanti

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Balai Pelatihan Pertanian (BPP) Ngusikan Kabupaten Jombang