Mengembalikan kesuburan tanah dan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) menjadi isu sentral sekaligus program utama Dinas Pertanian Kabupaten Jombang. Dalam setiap kesempatan, Dr. Priadi Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang selalu menekankan dua hal penting tersebut untuk memotivasi petani agar produksi tanaman pertanian makin meningkat. Penggunaan pupuk dan pestisida kimia secara berlebihan telah mengubah struktur tanah dan merusak keseimbangan ekosistem.  

Program intensifikasi pertanian yang digaungkan sejak tahun 70-an oleh pemerintah Indonesia yang ditujukan untuk mencapai swasembada pangan telah merubah budaya dan kebiasaan petani, salah satunya terkait dengan penggunaan pupuk kimia.Penggunaan pupuk kimia memang digemari para petani karena lebih praktis digunakan. Namun, aplikasi yang kurang tepat dapat merusak tanah dan tanaman.Sebenarnya fungsi pupuk akan maksimal jika diaplikasikan sesuai dosis anjuran. Tetapi, banyak petani yang menganggap semakin banyak menggunakan pupuk kimia, maka akan semakin bagus untuk hasil panen nantinya, padahal yang terjadi malah sebaliknya.  

Residu pupuk kimia yang tertinggal di dalam tanah jika terkena air akan mengikat tanah seperti lem/semen. Setelah kering menjadi keras dan tandus. Selain keras, tanah juga menjadi masam. Kondisi ini membuat organisme penyubur tanahmenjadi mati atau berkurang populasinya. Beberapa binatang yang menggemburkan tanah seperti cacing tidak mampu hidup dan kehilangan unsur alamiahnya. Bila ini terjadi, maka tanah tidak bisa menyediakan makanan secara mandiri lagi, dan akhirnya menjadi sangat tergantung pada pupuk tambahan, khususnya pupuk kimia.Melihat kondisi ini sudah tidak ada lagi alasan bagi kita untuk menunda dan segera bertindak mengembalikan kesuburan tanah dengan penggunaan pupuk organik.

Mendukung program pengembalian kesuburan tanah, Pemerintah Kabupaten Jombang mulai tahun 2021 melalui Program Jombang Berkadang mewajibnya semua desa untuk menganggarkan pengadaan pupuk kompos/Bokashi yang diperuntukkan bagi petani. Program ini dibaca oleh Kelompok Usaha Bersama (KUB) Tunas Tani Kecamatan Ngoro sebagai sebuah peluang. KUB yang digawangi M. Wiwit, Linda dan M. Sholikhin, ketiganya adalah Pemuda Tani Kecamatan Ngoro didampingi para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) segera mengambil kesempatan ini untuk memproduksi Bokashi. Bertempat di lingkungan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Ngoro mereka bersama pemuda tani lainnya melakukan proses pembuatan Bokashi. Memanfaatkan potensi limbah yang ada di sekitar Ngoro,seperti kotoran ternak, limbah baglog jamur, sekam dan arang sekam dan beberapa bahan lainnya mereka bersemangat melakukan pembuatan Bokashi. Terlihat beberapa karung bokashi yang sudah dijahit tertumpuk rapi siap untuk dikirim kepada pembeli. “ Kami siap memproduksi dan melayani kelompok tani yang membutuhkan kompos/Bokashi yang berkualitas dengan harga pantas di Kecamatan Ngoro dan sekitarnya”  kata Wiwit selaku Ketua KUB Tunas Tani. Saat ini sudah masuk beberapa order daftar tunggu permintaan dari poktan, ada sekitar 40-50 ton yang minta segera dikirim. Kami terus melakukan usaha peningkatan kapasitas dan melengkapi peralatan yang dibutuhkan untuk produksi, sehingga jika ada konsumen yang order dalam jumlah banyak mereka tidak perlu menunggu terlalu lama, demikian tambahnya.

Untuk memastikan kualitas Bokashi yang diproduksi oleh KUB Tunas Tani, para PPL di BPP Ngoro selalu memantau dan mendampingi mereka mulai dari penyiapan dan pemilihan bahan baku, proses produksi sampai dengan distribusi pada para konsumen. Hal ini dilakukan agar Bokashi yang diproduksi sesuai dengan standart minimum dan tidak mengecewakan petani.     Sunar, SP., salah satu PPL yang concern mendampingi KUB Tunas Tani menyatakan bahwa meskipun harga Bokashi dipatok Rp 500/kg sampai ditangan konsumen tetapi dia berani menjamin Bokashi yang diproduksi bukan Bokashi asal jadi. Bahan dan prosesnya dipastikan sesuai SOP, sehingga Bokashi yang diproduksi benar-benar bagus, demikian pungkasnya.

 

Ditulis Oleh: Agus Rohmani Yahya

PPL Kabupaten Jombang